LUBUK SAKAT – Universitas Lancang Kuning (Unilak) Riau, sukses menggelar program pengabdian kepada masyarakat di Desa Lubuk Sakat pada Selasa, 7 Juli 2026. Kegiatan yang berkolaborasi dengan Pemerintah Desa dan Karang Taruna Desa Lubuk Sakat ini fokus pada pelatihan pembuatan lubang biopori untuk resapan air serta pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos.
Acara yang berlangsung dari pagi hingga siang hari ini dihadiri oleh 20 peserta. Mereka terdiri dari LKD desa, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta pemuda dan Pemudi anggota Karang Taruna Desa Lubuk Sakat yang tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Ketua Pelaksana Kegiatan, Dr. Muthia Anggraini, S.T., M.T., menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai solusi aplikatif bagi permasalahan lingkungan di tingkat tapak. Sinergi antara akademisi, pemerintah desa, dan pemuda menjadi kunci utama keberhasilan program berkelanjutan ini. "Kami melihat potensi yang sangat besar di Desa Lubuk Sakat. Melalui kolaborasi bersama pemerintah desa dan peran aktif anak-anak muda di Karang Taruna, kami ingin mengedukasi warga bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari pekarangan rumah sendiri dengan metode yang sangat sederhana," ujar Dr. Muthia Anggraini di sela-sela kegiatan.
Pihak Pemerintah Desa Lubuk Sakat menyambut hangat inisiatif ini. Dalam sambutannya, Kepala Desa menyampaikan bahwa edukasi seperti ini sangat dibutuhkan oleh warga untuk meminimalisir volume sampah rumah tangga yang dibuang ke lingkungan.
Rangkaian acara dimulai pada pukul 09.00 WIB yang diawali dengan pembukaan resmi oleh pembawa acara, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sambutan-sambutan dari pihak universitas maupun pemerintah desa. Memasuki sesi inti, pelatihan dibagi menjadi dua sesi materi utama yang disampaikan secara komprehensif oleh para pakar:
- Sesi I: Teknik Pembuatan Lubang Biopori
Ir. Dr. Fitridawati Soehardi, S.T., M.T. menyampaikan materi teknis mengenai pembuatan dan fungsi lubang resapan biopori.
"Biopori ini bukan sekadar lubang di tanah. Ini adalah investasi lingkungan jangka panjang untuk mencegah genangan air saat musim hujan dan menjaga cadangan air tanah saat kemarau. Keuntungannya ganda, karena lubang ini juga menjadi tempat pembuangan sampah organik," jelas Ir. Dr. Fitridawati dalam paparannya.
- Sesi II: Pengolahan Sampah Organik Menjadi Kompos
Dr. Vonny Indah Sari, S.T.P., M.P. memandu sesi pemilahan dan pengolahan sampah dapur agar bernilai guna tinggi.
"Sampah dapur yang biasanya dibuang dan menimbulkan bau, sebenarnya adalah bahan baku pupuk organik yang sangat bagus. Kami mengajarkan warga cara memilah dan mengolahnya dengan mudah, sehingga mereka tidak perlu lagi membeli pupuk kimia untuk tanaman di rumah," ungkap Dr. Vonny Indah Sari.
Setelah pemaparan teori di dalam ruangan, seluruh peserta diarahkan ke area luar (lapangan desa) untuk melakukan praktik langsung. Pada sesi simulasi ini, anggota Karang Taruna dipandu langsung oleh tim Unilak untuk mengebor tanah menggunakan alat bor biopori, memasang pipa paralon berlubang, hingga memasukkan sampah organik sebagai stimulan awal. Acara ditutup pada pukul 12.30 WIB dengan sesi foto bersama.
Tokoh Masyarakat
16 Maret 2026 09:55:36
Alhamdulillah BLT sudah cair, terimakasih kepada pemerintah desa...